Minggu, 11 Januari 2015

Salahkah Mengkritisi Pemerintah?




Saya hanya bisa tersenyum ketika beberapa orang teman menyindir status facebook tentang ketidaksetujuan saya terhadap rencana pemerintah yang akan mengatur harga batas bawah untuk perjalanan menggunakan pesawat, yang artinya tidak akan kita temui lagi harga tiket pesawat murah dan tiket promo, tentu sebagai rakyat yang dianugerahi tuhan otak, kita ingin tahu apa alasan pemerintah dalam mengambil kebijakan tersebut. Beberapa kali baca berita, ternyata the one and only alasan pemerintah adalah agar maskapai tidak mengabaikan keselamatan para penumpangnya. alasan yang bikin orang-orang "paham" tertawa terguling-guling sambil jingkrak dan kayang, sementara bagi mereka yang awam, akan mulai mencemooh mereka yang kritis dengan sebutan "sok pintar",lalu menambahkan kalimat sinis, "kenapa ga kamu saja yang menjadi menteri?"

Namun disini saya tidak akan bahas hal tersebut, yang menjadi fokus saya dalam tulisan ini adalah bagaimana kita mengkritisi pemerintah. Seorang budayawan cerdas yang saya follow di twitter dengan nama account @sudjiwotedjo mengatakan dalam satu tweet nya: "Pemerintah bertangan besi mematikan nyali, tapi pemimpin yang dinabikan mematikan nalar", coba pahami dan renungkan kata-kata tersebut, betapa bahayanya negara kita jika pemimpinnya sudah dianggap nabi, dan sudah tidak ada lagi yang mau meluangkan waktunya untuk megkritisi kebijakan pemerinah.

Lalu apakah kita harus menjadi oposisi dan menganggap semua kebijakan pemerintah itu keliru? Tentu tidak!, walaupun masih banyak kubu "barisan sakit hati" yang melakukan hal tersebut di media sosial. Ketika pilpres saya termasuk ke dalam kubu yang berseberangan dengan presiden terpilih, namun ketika presiden sudah terpilih dan dilantik saya tidak mau larut dan bergabung dalam kubu "barisan sakit hati" karena menurut saya hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, saya hanya berpikir bagaimana saya bisa mengawal kebijakan pemerintah demi kejayaan NKRI tercinta, tentunya yang saya kawal adalah kebijakan yang berkaitan dengan bidang yang saya kuasai.

Beberapa kebijakan pemerintah yang bagus, akan saya apresiasi, seperti virus "blusukan" yang ditularkan sang presiden kepada menteri-menterinya, saya menganggap "blusukan" adalah sebuah kegiatan yang sangat bagus bagi seorang Leader. Bagaimanapun apa yang kita lihat langsung tidak akan sama dengan apa yang cuma kita dengarkan, apalagi kalau sumber informasi yang kita punya cuma beberapa orang. Saya terharu ketika sang Presiden didampingi menterinya datang langsung ke Riau, provinsi yang penduduknya setiap tahun "di-asap-in" bukan saja sekali setahun malah beberapa kali dalam setahun, termasuk didalamnya saya yang selama 12 tahun kuliah dan bekerja di Riau, jadi sudah tau sendiri bagaimana rasanya "di-asap-in". Presiden dan menterinya berkunjung langsung ke lahan yang terbakar, berdialog langsung dengan masyarakat di lokasi kebakaran hutan, sehingga pemerintah jadi tahu apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahan dari kebakaran hutan yang rutin hadir setiap tahun, Hal yang tidak pernah dilakukan Presiden sebelum-sebelum nya

Namun sayangnya blusukan yang selalu diliput media membuat blusukan tersebut terkesan "tidak ikhlas", maka muncul lah di kalangan kritikus istilah pencitraan. Jadi sebenarnya yang salah disini bukan blusukan nya namun keikutsertaan media. Namun jika saya memposisikan diri di posisi rekan-rekan media, saya merasa tidak pantas untuk disalahkan, karena bagi media meliput blusukan akan mendapat berita yang update, berita yang update akan menghasilkan pundi-pundi untuk pemilik media.

Yang menjadi kecemasan saya adalah ketika media tidak ikut serta dalam mengkritisi pemerintah, media seakan cuma memberikan informasi kepada warga tetapi tidak berusaha membahas secara dalam mengenai kebijakan tersebut, padahal tentunya para awak media adalah insan terpilih yang dibekali ilmu untuk membahas bidang berita yang menjadi fokus kerjanya, Sekarang ini saya dan juga masyarakat lainnya merindukan media yang independen, yang mengapresiasi prestasi yang dicapai pemerintah serta berani mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat, bukankah sejatinya pemerintah tersebut adalah pelayan rakyat?.

Diakhir tulisan ini saya hanya berusaha mengajak pembaca untuk menjadi manusia yang kritis terhadap pemerintah, terutama di bidang-bidang yang memang kita kuasai, jangan hiraukan mereka yang mencemooh, niatkan kritikan itu untuk memajukan bangsa dan negara, karena tanpa kritikan maka tidak akan ada perubahan ke arah yang lebih baik. Begitupun sebaliknya jika pemerintah mempunyai prestasi silahkan diapresiasi, agar pemerintah akan semakin semangat untuk memberikan yang terbaik buat rakyatnya.


#Belanda, 11 Januari 2015, pukul 22.15 CET

Tidak ada komentar:

Posting Komentar